PEREMPUAN
DAN KONSTRUKSI JENDER
Rashared
by Kamirah
Jender sering disalahpahami sebagai
perempuan, padahal bicara tentang bentukan dan konstruksi sosial mengenai
nilai, peran, hak dan kewajiban, apa yang pantas dan tidak pantas, yang
dilekatkan pada perempuan dan laki-laki.
Antara Tradisi dan
”kodrat”
Tradisi sukunya menyuruh perempuan melahirkan di tempat yang
disebut ”kandang hina”, yang pemali didekati laki-laki. Ibu dan bayi harus
tinggal, sering di udara terbuka di atas tanah saja, seminggu atau sampai tali
pusar terlepas dan lukanya mengering. Wina yang masih muda sudah terlihat tua,
letih digilas oleh praktik yang menyebabkan entah berapa banyak perempuan mati
sia-sia, juga anak tak terselamatkan nyawanya.
Di belahan negara lain seperti di China, banyak perempuan
harus merelakan rahimnya membengkak kelelahan diisi janin-janin yang terus
dilahirkan, cuma untuk dibuang bila yang lahir perempuan (Message from an
Unknown Chinese Mother, kisah nyata, Xinran, 2011). Sementara di India,
misalnya, meski secara resmi sudah dilarang sejak 1961, dalam kenyataannya
masih hidup praktik mas kawin yang wajib dibayarkan keluarga perempuan kepada
keluarga suami, yang dapat berbuahkan penganiayaan (sering dalam bentuk
pembakaran) hingga kematian bila perempuan tak sanggup melunasi.
Cerita di atas terasa sangat mengerikan dan sepertinya jauh
dari kehidupan kita. Mungkin banyak dari kita akan bilang, ”Tetapi perempuan
sekarang kan bisa melakukan apa saja. Bisa jadi pengusaha, menyetir mobil,
bahkan jadi menteri dan lebih berkuasa daripada laki-laki.” Ada yang
berpendapat perempuan perlu pendidikan tinggi agar dapat mendidik anak dan
mendampingi suami dengan baik, tetapi tidak usah bekerja di luar rumah karena
kodratnya sebagai perempuan adalah menjadi ibu dan melayani suami.
Salah satu topik paling mengundang perdebatan masyarakat,
perempuan dan laki-laki, adalah topik tentang perempuan. ”Kodrat” selalu dibawa
dalam percakapan, kadang kuat dibalut emosi, sepertinya dengan pemaknaan aneka
rupa sesuai yang diinginkan penggunanya. Mulai dari kodrat perempuan itu ”lemah
lembut”, ”emosional”, ”tergantung dan patuh pada laki-laki”, ”menjadi ibu”,
hingga ke ”lebih senang shopping”.
Entah apa yang dimaksud ”kodrat” di situ. Bila kamus
menyatakan ”kodrat” bermakna ”sesuatu yang terberi, tidak dapat ditentang
manusia, sifat asli, sifat bawaan”, sesungguhnya ”kodrat” (mayoritas) perempuan
yang berbeda dari laki-laki itu ada pada aspek reproduksinya yang khas,
tertampil dalam mengalami menstruasi, serta (berpotensi) hamil, melahirkan, dan
menyusui dengan ASI. Itu saja. Yang lainnya adalah akibat, pemahaman dan
bentukan masyarakat, yang sering dipercaya sebagai kebenaran, dan dipertahankan
dari waktu ke waktu.
Konstruksi
jender
Persoalan perempuan dan konstruksi jender adalah persoalan
lintas disiplin, lintas sektor, relevan dibahas di semua bidang, karena manusia
itu setengahnya perempuan, setengahnya lagi laki-laki. Meski demikian, kajian
ini masih dianggap tidak penting atau sering dipahami secara salah, sebagai
”ingin memerangi laki-laki”.
Perempuan dan ”jender” itu berbeda meski erat terkait satu
dan lainnya. ”Jender” sering disalahpahami sebagai ”perempuan”, padahal bicara
tentang bentukan dan konstruksi sosial mengenai nilai, peran, hak dan
kewajiban, apa yang pantas dan tidak pantas, yang dilekatkan pada perempuan dan
laki-laki. Misalnya tentang tawuran dan perilaku-perilaku berisiko yang banyak
dilakukan laki-laki, tentang Wina atau banyak perempuan lain yang rentan mati
sia-sia dalam proses melahirkan karena pelanggengan praktik yang merendahkan
(mengapa gubuk untuk melahirkan disebut ”rumah hina?”). Atau tentang kekerasan
seksual yang bisa terjadi pada perempuan dan laki-laki, tetapi berdampak
berbeda, tentang bagaimana perusakan alam dan perang bisa dialami secara sama
oleh perempuan dan laki-laki (karena sama-sama manusia), tetapi juga
berimplikasi berbeda karena keduanya dilekati dengan nilai dan peran berbeda.
Kajian jender menjadi kajian akademik yang sulit dipahami,
terutama karena selama ratusan tahun orang membawa pengalaman pribadi, nilai
dan kebiasaan hidup dalam masyarakat sebagai ”kebenaran” dan terus
melanggengkannya, tidak lagi kritis terhadap praktik peminggiran perempuan
bahkan dalam dunia akademik.
Tentang hal di atas, menarik untuk mengutip frase dalam
pidato ilmiah bapak psikoanalisis, Sigmund Freud, tentang femininitas, yang
ditulisnya tahun 1932: ”Ladies and gentlemen throughout history people have
knocked their heads against the riddle of the nature of femininity - Nor will
you have escaped worrying over this problem – those of you who are men; to
those of you who are women this will not apply – you are yourselves the problem”.
Jika diterjemahkan bebas, lebih kurang: ”Saudara-saudara, sepanjang sejarah
orang berpikir keras mencoba memahami teka-teki femininitas - Anda kaum
laki-laki, juga tidak luput mengkhawatirkan persoalan ini; untuk Anda yang
perempuan, ini tidak berlaku, karena Anda sendirilah masalah (yang sedang
diselidiki) itu”.
Ilmu pengetahuan itu tidak lepas dari bias jender. Cukup
banyak orang hingga kini, termasuk ilmuwan psikologi, seperti Freud, membahas
dan mengambil kesimpulan tentang perempuan, tanpa bertanya dan mencoba memahami
dari sisi perempuan itu sendiri yang mengalami dan menjalani hidupnya. Bahkan,
ilmuwan perempuan tidak jarang membawa bias jender itu. Karena itu, kajian
jender yang mengungkap bias dan mengupayakan pengetahuan adil jender menjadi
penting. (Kristi Poerwandari)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar