NASIB PEREMPUAN INDONESIA BELUM MENENTU
Oleh: Kamirah
Sampai detik ini, nasib kaum perempuan dalam berbagai
sektor belum menjanjikan. Kaum hawa ini sering menjadi objek yang paling rentan
menerima tindak kekerasan dan ketidakadilan. Bahkan kebijakan di berbagai
sektor khususnya pekerjaan, tidak memberikan keberpihakan pada perempuan.
Banyak perusahaan yang tidak mengijinkan cuti haid, hamil dan reproduksi.
Pelecehan seksual di lingkungan kerja juga masih terus terjadi. Nasib kaum
perempuan, semakin terpojokkan dengan adanya berbagai kebijakan pemerintah yang
diskriminatif. Salah satunya adalah kasus perkosaan yang diatur dalam KUHP,
masih menjadi satu pasal dalam bab kesusilaan. Padahal kasus tersebut murni
kriminal.
Proses marginalisasi ini lebih diperparah lagi dengan rencana pemerintah lain yang makin memperburuk nasib perempuan adalah kebijakan kenaikan BBM. Langkah tersebut otomatis akan menimbulkan penindasan dan kemiskinan dengan upah buruh murah dan pekerja yang mayoritas perempuan akan semakin menderita.
Untuk itu keadaan ini jika dibiarkan, maka kaum perempuan akan terpinggirkan atau paling tidak dinomorduakan. Oleh karenanya, hal ini harus diperjuangkan agar ada jaminan hukum dan perlindungan bagi perempuan. Pemerintah juga diminta untuk mencabut berbagai aturan dan kebijakan yang diskriminatif. Perjuangan ini harus dilakukan melalui jalur politik. Tetapi, berapa banyak kaum perempuan yang ada di parlemen? Kalau toh ada, mereka belum sepenuhnya memperjuangkan kaumnya, karena saking minimnya. Maka ini perlu kekompakan seluruh kaum perempuan agar ketika pemilu tahun depan, mereka memilih wakil-wakilnya dari kaumnya.
Perempuan berhak untuk memperoleh kesetaraan dan kesejahteraan di berbagai sektor. Termasuk jaminan pendidikan, kesehatan, dan perlindungan dalam pekerjaan maupun kesempatan untuk berpolitik (krjogja.com). Hak perempuan inilah yang perlu dimengerti, dirasakan dan diperjuangkan oleh kaum perempuan sendiri. Karena tidak mungkin kaum laki-laki akan memikirkan, dan kalau toh ada, paling hanya sedikit. Untuk itu, bersatulah kaum perempuan guna menentukan nasibnya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar