Kamis, 30 Mei 2013

Peran Perempuan



PERAN PEREMPUAN DALAM PERUBAHAN SOSIAL



Reshared by: Kamirah

Peran Perempuan dalam perubahan social sebenernya sudah ada sejak dulu kala. Perempuan juga merupakan actor penting dalam setiap perubahan social pada masyarakat, tetapi Westernisasi lah yang mengecilkan peran wanita itu hanya pada sumur, dapur, kasur. 

Sesungguhnya peran Perempuan dalam Agama manapun sangatlah di hormati dan sangat di junjung tinggi. “Untuk itu perempuan – perempuan muda saat ini yang pertama dan utama adalah memilik kesadaran fitrah perempuan memiliki peranan yang sangat strategis juga dalam setiap perubahan social di lingkungannya,” kata Herlini Amran pada seminar di Universitas Batam.
Selanjutnya, Menurut Herlini, “Agar perempuan bisa menjadi sosok perubah itu, Perempuan mudanya perlu memiliki 3 kapasitas utama yang harus dikuasasi wanita; yaitu memiliki kemampuan akademis yang baik, memiliki juga kecerdasan religi dan harus berkarya di masyarakat maupun lingkungannya,” ujarnya.

Setelah memiliki 3 Kapasitas utama tersebut Perempuan juga tidak boleh menyalahi kodrat nya sebagai wanita dan merasa lebih baik dari laki-laki. Wanita dan laki-laki merupakan partner yang selaras, saling mendukung dan mengisi kekurangannya satu sama lainnya seperti Nabi Adam dan Siti Hawa.
 
Menurut Herlini yang merupakan Anggota DPR RI Komisi Pendidikan, Olahraga dan Pariwisata mencontohkan Kisah Peran Siti Asiah istrinya Firaun/ Paraoh yang dapat membujuk suaminya untuk tidak membunuh bayi laki-laki yang ditemukannya di sungai padahal paraoh telah membuat kebijakan lalim untuk membunuh bayi laki-laki yang lahir zaman itu.

Minggu, 26 Mei 2013

Perempuan dan Jender

PEREMPUAN DAN KONSTRUKSI JENDER
Rashared by Kamirah


Jender sering disalahpahami sebagai perempuan, padahal bicara tentang bentukan dan konstruksi sosial mengenai nilai, peran, hak dan kewajiban, apa yang pantas dan tidak pantas, yang dilekatkan pada perempuan dan laki-laki.

Antara Tradisi dan ”kodrat”
Tradisi sukunya menyuruh perempuan melahirkan di tempat yang disebut ”kandang hina”, yang pemali didekati laki-laki. Ibu dan bayi harus tinggal, sering di udara terbuka di atas tanah saja, seminggu atau sampai tali pusar terlepas dan lukanya mengering. Wina yang masih muda sudah terlihat tua, letih digilas oleh praktik yang menyebabkan entah berapa banyak perempuan mati sia-sia, juga anak tak terselamatkan nyawanya.
Di belahan negara lain seperti di China, banyak perempuan harus merelakan rahimnya membengkak kelelahan diisi janin-janin yang terus dilahirkan, cuma untuk dibuang bila yang lahir perempuan (Message from an Unknown Chinese Mother, kisah nyata, Xinran, 2011). Sementara di India, misalnya, meski secara resmi sudah dilarang sejak 1961, dalam kenyataannya masih hidup praktik mas kawin yang wajib dibayarkan keluarga perempuan kepada keluarga suami, yang dapat berbuahkan penganiayaan (sering dalam bentuk pembakaran) hingga kematian bila perempuan tak sanggup melunasi.
Cerita di atas terasa sangat mengerikan dan sepertinya jauh dari kehidupan kita. Mungkin banyak dari kita akan bilang, ”Tetapi perempuan sekarang kan bisa melakukan apa saja. Bisa jadi pengusaha, menyetir mobil, bahkan jadi menteri dan lebih berkuasa daripada laki-laki.” Ada yang berpendapat perempuan perlu pendidikan tinggi agar dapat mendidik anak dan mendampingi suami dengan baik, tetapi tidak usah bekerja di luar rumah karena kodratnya sebagai perempuan adalah menjadi ibu dan melayani suami.
Salah satu topik paling mengundang perdebatan masyarakat, perempuan dan laki-laki, adalah topik tentang perempuan. ”Kodrat” selalu dibawa dalam percakapan, kadang kuat dibalut emosi, sepertinya dengan pemaknaan aneka rupa sesuai yang diinginkan penggunanya. Mulai dari kodrat perempuan itu ”lemah lembut”, ”emosional”, ”tergantung dan patuh pada laki-laki”, ”menjadi ibu”, hingga ke ”lebih senang shopping”.
Entah apa yang dimaksud ”kodrat” di situ. Bila kamus menyatakan ”kodrat” bermakna ”sesuatu yang terberi, tidak dapat ditentang manusia, sifat asli, sifat bawaan”, sesungguhnya ”kodrat” (mayoritas) perempuan yang berbeda dari laki-laki itu ada pada aspek reproduksinya yang khas, tertampil dalam mengalami menstruasi, serta (berpotensi) hamil, melahirkan, dan menyusui dengan ASI. Itu saja. Yang lainnya adalah akibat, pemahaman dan bentukan masyarakat, yang sering dipercaya sebagai kebenaran, dan dipertahankan dari waktu ke waktu.

Konstruksi jender
Persoalan perempuan dan konstruksi jender adalah persoalan lintas disiplin, lintas sektor, relevan dibahas di semua bidang, karena manusia itu setengahnya perempuan, setengahnya lagi laki-laki. Meski demikian, kajian ini masih dianggap tidak penting atau sering dipahami secara salah, sebagai ”ingin memerangi laki-laki”.
Perempuan dan ”jender” itu berbeda meski erat terkait satu dan lainnya. ”Jender” sering disalahpahami sebagai ”perempuan”, padahal bicara tentang bentukan dan konstruksi sosial mengenai nilai, peran, hak dan kewajiban, apa yang pantas dan tidak pantas, yang dilekatkan pada perempuan dan laki-laki. Misalnya tentang tawuran dan perilaku-perilaku berisiko yang banyak dilakukan laki-laki, tentang Wina atau banyak perempuan lain yang rentan mati sia-sia dalam proses melahirkan karena pelanggengan praktik yang merendahkan (mengapa gubuk untuk melahirkan disebut ”rumah hina?”). Atau tentang kekerasan seksual yang bisa terjadi pada perempuan dan laki-laki, tetapi berdampak berbeda, tentang bagaimana perusakan alam dan perang bisa dialami secara sama oleh perempuan dan laki-laki (karena sama-sama manusia), tetapi juga berimplikasi berbeda karena keduanya dilekati dengan nilai dan peran berbeda.
Kajian jender menjadi kajian akademik yang sulit dipahami, terutama karena selama ratusan tahun orang membawa pengalaman pribadi, nilai dan kebiasaan hidup dalam masyarakat sebagai ”kebenaran” dan terus melanggengkannya, tidak lagi kritis terhadap praktik peminggiran perempuan bahkan dalam dunia akademik.
Tentang hal di atas, menarik untuk mengutip frase dalam pidato ilmiah bapak psikoanalisis, Sigmund Freud, tentang femininitas, yang ditulisnya tahun 1932: ”Ladies and gentlemen throughout history people have knocked their heads against the riddle of the nature of femininity - Nor will you have escaped worrying over this problem – those of you who are men; to those of you who are women this will not apply – you are yourselves the problem”. Jika diterjemahkan bebas, lebih kurang: ”Saudara-saudara, sepanjang sejarah orang berpikir keras mencoba memahami teka-teki femininitas - Anda kaum laki-laki, juga tidak luput mengkhawatirkan persoalan ini; untuk Anda yang perempuan, ini tidak berlaku, karena Anda sendirilah masalah (yang sedang diselidiki) itu”.
Ilmu pengetahuan itu tidak lepas dari bias jender. Cukup banyak orang hingga kini, termasuk ilmuwan psikologi, seperti Freud, membahas dan mengambil kesimpulan tentang perempuan, tanpa bertanya dan mencoba memahami dari sisi perempuan itu sendiri yang mengalami dan menjalani hidupnya. Bahkan, ilmuwan perempuan tidak jarang membawa bias jender itu. Karena itu, kajian jender yang mengungkap bias dan mengupayakan pengetahuan adil jender menjadi penting. (Kristi Poerwandari)

(Kompas, Rabu 29 Februari 2012).

Peringatan Allah




PERINGATAN ALLAH DI AZ ZALZALAH
Reshared by: Kamirah

Ada 5 point penting yang bisa kita petik dari surat Az-Zalzalah. Pertama, tentang kedudukan atau posisi surat Az-Zalzalah. Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan salah satu hadits riwayat Tirmidzi, Rasulullah saw menyampaikan bahwa Surat Az-Zalzalah itu setara dengan setengah Al-Quran, surat Al-Ikhlas setara dengan 1/3 Al-Quran, dan surat Al-Kafirun setara dengan ¼ Al-Quran.
Dalam kesempatan lain, rasul juga pernah menanyakan kepada salah seorang sahabatnya yang belum menikah, dengan alasan tidak memiliki mahar, apakah dia hafal surat Az-Zalzalah? Ketika dijawab bahwa dia hafal, maka rasul menyuruh sahabat tersebut menikah, dengan mahar surat Az-Zalzalah. Ini menunjukkan bahwa surat Az-Zalzalah memiliki keutamaan yang sangat besar, sesuai hadits nabi tersebut di atas. Maka dapat kita pahami, kenapa Imam As-Syahid Hasan Al-Bana ketika menyusun Wadzifah kubra dalam Al-Ma’tsurat, salah satu wiridnya adalah surat Az-Zalzalah.
Pelajaran kedua dari surat Az-Zalzalah adalah makna guncangan yang Allah sebutkan dalam ayat 1 surat tersebut, yang terjemahnya:” Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat” menurut penafsiran Ibnu Katsir, guncangan ini adalah guncangan yang terjadi di hari kiamat nanti, dimana pada saat itu bumi akan diguncangkan dari porosnya/langsung dari pusat sumbunya. Kita bisa bayangkan pada saat gempa terjadi tahun 2004 lalu di Mentawai, NAD dengan kedalaman pusat gempa 10 km saja, efeknya bisa menimbulkan tsunami dengan ketinggian gelombang lebih dari 4 meter. Padahal kedalaman poros bumi masih sangat jauh dari jarak tersebut. Jadi meskipun guncangan yang dimaksud dalam surat tersebut adalah guncangan hari kiamat, tapi sebetulnya terjadinya banyak gempa, bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga buat kita, bahwa betapa dahsyatnya nanti kejadian yang akan dialami pada hari kiamat. Di samping itu, terjadinya banyak gempa. baik tektonik ataupun vulkanik, juga menjadi salah satu tanda dekatnya hari kiamat, seperti yang rasul sampaikan.
Selanjutnya pelajaran ketiga ada pada ayat yang berikutnya, dimana Allah menyampaikan “dan bumi telah mengeluarkan beban berat yang dikandungnya. Apa yang dikeluarkan oleh bumi? Yang dikeluarkan oleh bumi pada saat itu adalah jasad-jasad manusia yang sudah hancur, dan selama ini sudah terkubur di dalam bumi. Jasad-jasad tadi bermunculan seperti jamur yang tumbuh di musim hujan, dan keluar/muncul dalam keadaan yang berbeda-beda. Ada yang keluar dengan muka berseri-seri, ada yang keluar dengan muka yang gelap/hitam. Keadaan yang demikian terkait dengan tingkah laku seseorang pada saat masih di dunia. Selain jasad manusia, bumi juga akan mengeluarkan beban-beban lain, semacam emas perak, dan barang-barang tambang lain. Dalam sebuah hadits diceritakan bahwa saat bumi mengeluarkan emas perak, berkatalah seorang pembunuh,. Karena sebab inilah (emas perak, dulu saya menjadi pembunuh. Kemudian berkatalah orang yang memutuskan silaturahim, Oleh sebab inilah saya dulu memutuskan hubungan silaturahim. Berkata juga seorang pencuri. Oleh sebab ini pula saya dulu mencuri. Demikian hadits yang dikutip oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Dalam hadits tersebut terlihat betapa manusia pada akhirnya menyadari, dan akan menyesal, bahwa kecintaannya terhadap dunia telah menjadikan dirinya lupa dan buta, sehingga melakukan tindakan-tindakan yang melanggar aturan Allah, yang membuat kecelakaan bagi dirinya di Yaumil akhir nanti. Cinta kepada dunia (penyakit wahn) inilah, penyakit yang banyak menjangkiti umat Islam, seperti pernah disinyalir oleh Rasulullah dalam salah satu hadits, bahwa suatu saat nanti umat Islam akan menjadi rebutan umat lain, seperti hidangan yang diperebutkan. Kemudian para sahabat bertanya. Ya Rasulullah, apakah karena jumlah kita pada waktu itu sedikit? rasul menjawab: bahwa jumlah kalian pada saat itu banyak, akan tetapi kalian terkena penyakit wahn. Sahabat bertanya: apa itu penyakit wahn ya Rasulullah, beliau menjawab: cinta dunia dan takut mati. Sehingga kondisi kalian seperti buih di atas lautan, yang mudah untuk terombang-ambing.
Jika kita cermati kondisi yang pernah menimpa bangsa Indonesia, makna bahwa bumi mengeluarkan beban berat yang dikandungnya, bisa kita hubungkan dengan banyaknya material-material berat yang telah dimuntahkan oleh gunung merapi. Total muntahan lava dan lahar selama erupsi merapi beberapa waktu lalu, tercatat sampai 140 juta kubik, lebih tinggi dari jumlah yang telah dikeluarkan merapi pada erupsi tahun 2006 (sumber republika). Keluaran semua material tersebut, dibarengi dengan keluarnya awan panas, telah banyak memakan korban jiwa. Di sinilah kesadaran kita sampai pada sebuah titik bahwa kekuasaan Allah swt sungguh sangat dahsyat, wallahu ala kulli syain qadir.
Kelanjutan ayat dari surat Az-Zalzalah yang harus kita renungkan dan menjadi pelajaran keempat adalah: “Pada hari itu, bumi menceritakan beritanya.“ Apa yang diceritakan oleh bumi? Bumi akan menceritakan seluruh perbuatan manusia yang menapaki/menempatinya. Bumi akan menjadi saksi. Ya, saksi yang akan hadir dalam pengadilan Allah terhadap manusia di yaumil akhir nanti. Tidak ada sejengkal bumi pun yang pernah kita lalui, yang pernah kita injak, yang pernah kita diami, yang pernah kita lewati, kecuali dia akan menjadi saksi atas apa yang pernah kita lakukan di atasnya. Semakin banyak bumi yang kita injak, semakin banyak yang akan menjadi saksi, apakah kebaikan atau kejahatan yang kita lakukan. Jika selama hidup di dunia kita banyak melakukan kebaikan, maka semakin banyak tempat yang kita lalui, berarti akan semakin banyak saksi yang meringankan kita pada saat pengadilan Allah nanti. Maka renungkanlah dan rasakanlah, setiap jengkal tanah dimana kita menapak di atasnya, sesungguhnya bumi/tanah tersebut tidak ubahnya seperti CCTV yang akan selalu merekam setiap jejak langkah kita.
Yang kelima, apa yang bisa kita ambil pelajaran dari surat Az-Zalzalah adalah firman-NYA yang menegaskan bahwa: “Dan barangsiapa berbuat kebajikan meskipun seberat biji dzarah, maka dia akan mendapat balasannya, dan barangsiapa berbuat kejahatan, meskipun seberat biji dzarah, maka dia juga akan mendapatkan balasannya. Di mata Allah, semua yang dilakukan oleh hambanya, tidak ada yang terluput, tidak ada yang disepelekan, meskipun kelihatannya kecil. Berbeda dengan manusia, kadang manusia suka meremehkan hal-hal yang kecil, mengabaikan dan tidak memberikan penghargaan. Tapi bagi Allah tidak demikian, Sekecil apapun perbuatan yang dilakukan oleh manusia, di hadapan Allah akan ada nilai dan konsekuensinya Jadi jangan pernah menganggap remeh melakukan perbuatan dosa, meskipun kecil, karena tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus. Sebaliknya juga jangan meremehkan melakukan kebaikan meskipun sesuatu yang kelihatannya kecil. Misalnya tersenyum dan bermuka manis kepada teman. Sesuai dengan yang disampaikan Rasulullah saw bahwa “Tabbasumuka fi wajhi akhika laka shadaqah” senyummu untuk saudaramu itu bernilai sedekah. Contoh lain misalnya mengusap dan memeluk anak kita (khususnya yang masih kecil), jika kita lakukan dengan penuh kasih sayang, hal ini akan menjadi bernilai ibadah, dan berdampak positif bagi anak kita. Anak kita akan merasakan kedamaian dan ketenteraman, merasakan kasih sayang yang tulus dari orang tuanya. Pada gilirannya anak yang terbiasa mendapatkan kasih sayang, maka dia akan tumbuh menjadi pribadi yang penuh kasih sayang.
Terkait dengan ayat tersebut, Rasulullah saw pernah berpesan kepada Aisyah ra, “ Wahai Aisyah, selamatkan dirimu dari api neraka, meskipun hanya dengan sebutir kurma”. Mungkin kita bertanya, mungkinkah hanya dengan sebutir kurma kita bisa menyelamatkan diri dari api neraka? jawabannya sangat mungkin. Bukankah jika memang hanya sebutir kurma yang kita miliki, dan barangkali juga itulah satu-satunya yang ada pada kita, maka dengan pengorbanan kita mampu memberikannya pada orang lain yang membutuhkan, berarti kita telah mencoba untuk menjadi seorang yang berlaku itsar. Dan itsar adalah puncak /nilai tertinggi dari ukhuwah. Dan tidaklah seorang saling bersaudara karena Allah, yang diwujudkan dengan memberi, maka Allah menempatkannya di surga, bahkan dengan wajah yang bercahaya, sampai membuat iri para rasul karena cahaya wajahnya yang terang. Maka lakukan selalu kebaikan, meskipun dari sesuatu yang kecil. Sebarkan semangat pada saudaramu, meski ujian banyak menerpa jalan dakwah. Wallahu a’lam

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/05/25/33834/az-zalzalah-salah-satu-rangkain-wirid-al-matsurat/#ixzz2USK8SBWa

Minggu, 19 Mei 2013

Women Crisis Center



INDONESIA BUTUH LEBIH BANYAK WOMEN CRISIS CENTER



Diposkan oleh: Kamirah

Penyediaan layanan berkualitas untuk membantu perempuan mengakses keadilan dan memperoleh pemulihan masih menjadi salah satu tantangan utama dalam pemenuhan hak asasi manusia bagi perempuan Indonesia. Berdasarkan Catatan Tahunan Komnas Perempuan (Catahu), jumlah kasus yang ditangani oleh lembaga layanan meningkat empat kali lipat dalam lima tahun terakhir, yaitu dari 25.522 kasus di tahun 2007 menjadi 119.107 kasus di tahun 2011.
Sebagian besar kasus yang ditangani adalah kasus kekerasan dalam rumah tangga, 90 persen di antaranya adalah kekerasan suami terhadap istri. Oleh karena itu, jumlah kasus yang terus meningkat dan kompleksitas persoalan yang dihadapi membutuhkan dukungan baik dalam hal kebijakan maupun infrastruktur, termasuk sumber daya manusia yang mumpuni dalam memberikan layanan terbaik bagi perempuan korban kekerasan.
"Ketersediaan lembaga layanan masih dirasakan sangat kurang, belum semua daerah memiliki lembaga layanan dan awak terlatih untuk menangani kasus," kata Wakil Ketua Komnas Perempuan Desti Murdijana, di kantornya, Rabu (25/7).
Desti menjelaskan, meskipun pemerintah telah membangun 400 lembaga pelayanan untuk penanganan kasus kekerasan perempuan yang tersedia di kepolisian, rumah sakit, maupun unit pelayanan terpadu di bawah Kementerian Pemberdayaan Perempuan, hal itu masih dinilai kurang banyak mengingat banyaknya kasus yang terjadi hampir diseluruh pelosok negeri.

Menyikapi kendala keterbatasan pemerintah dalam menangani kasus yang dialami perempuan, maka masyarakat khususnya perempuan mendirikan Women Crisis Center (WCC) yang tersebar di 20 provinsi. WCC perannya cukup vital dalam mendukung upaya pemenuhan hak-hak perempuan dan cepat tanggap dalam menanganinya.
"WCC menerima laporan, mereka langsung jemput bola ke lapangan, mereka sepertinya lebih tahu apa yang harusnya dilakukan sehingga kesannya itu lebih mudah dan lebih cepat, mungkin karena sudah terbiasa (melihat kasus yang ada) jadi mereka lebih mengerti kasusnya mau diapakan" ujarnya.
Dalam segi biaya, WCC lebih murah, misalkan dalam hal advokasi. Karena, kebanyakan orang yang berada dalam WCC adalah orang yang berkecimpung di dunia sosial.
Komnas perempuan pun mendorong pemerintah dan pemerintah daerah untuk memastikan dukungan bagi penguatan infrastruktur dan layanan, termasuk ketersediaan dana bagi lembaga masyarakat, termasuk untuk WCC.
"Kita berharap, pemerintah dapat membantu WCC ini, karena mereka selama ini bertahan dari donor," imbuh Desti.
Kordinasi antara pemerintah WCC pun harus lebih diintensifkan. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi timpang tindih antara WCC dan pemerintah.
"Di beberapa kota memang kordinasi sudah berjalan namun memang perlu diintensifkan," ucapnya.
[ian]