Selasa, 25 Juni 2013

Partai Politik



PARTAI POLITIK, ANTARA PILAR DEMOKRASI DAN PILAR KOPRUPSI?
 
Ringkasan Buku: Yusrianto Elga, 2013, Apapun Partainya, Korupsi Hobinya
KORUPSI menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2011) adalah penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan, organisasi, yayasan, dan lainnya) untuk keuntungan pribadi dan orang lain. Sedangkan koruptor berarti orang yang melakukan korupsi. Fenomena korupsi di negeri ini begitu subur. Data yang dirilis KPK selama periode 2004-2011 tercatat sejumlah 1.408 kasus korupsi. Jika pada masa Orde Baru, korupsi hanya terjadi di lingkungan eksekutif dan orang-orang tertentu. Maka kini korupsi sudah merebak ke lembaga-lembaga seperti parlemen, kepolisian, bahkan juga partai politik.
Sebenarnya partai politik (parpol) merupakan pilar demokrasi. Gerak laju sosial-ekonomi-politik bergantung dari dinamika parpol. Itu sebabnya, parpol memiliki tugas dan tanggung jawab yang tidak sederhana. Masa depan sebuah bangsa berada di tangan parpol. Artinya, jika parpol benar-benar mengawal bangsa ini menuju perubahan, maka berarti parpol telah menanamkan benih-benih demokrasi di negeri ini. Sehingga, kaidah “dari rakyat, untuk rakyat” pantas disandang oleh parpol itu sendiri, kata Yusrianto Elga (2013, hlm 22).
Namun, mengapa menurut penulis buku Apa pun Partainya, Korupsi Hobinya  ini, parpol merupakan sarang bagi koruptor? Ada beberapa faktor yang menyebabkan parpol menjadi sarang koruptor. Pertama, kurangnya perhatian parpol terhadap pendidikan antikorupsi bagi para kader. Terutama bagi kader yang akan menjadi anggota dewan. Kedua, parpol hanya sibuk mengatur siapa kader yang akan dikirim ke kursi parlemen tanpa mengevaluasi kinerja kader dan sejauh mana komitmen yang ditunjukkan oleh mereka (hlm 19-20).
Membaca buku  ini membuka mata kita, hampir setiap partai, ada kadernya yang korupsi. Bahkan meskipun partai itu berlabel partai Islam. Seyogyanya kader-kader dari partai Islam menjadi contoh atau teladan yang inspiratif dalam  memaknai jabatan ataupun kekuasaan (hlm 48).
Buku yang ditulis alumnus Pidana dan Politik Islam ini menarik karena selain dilengkapi dengan nama-nama kader partai yang melakukan korupsi beserta kasus yang menjeratnya (baik dari Partai Demokrat, Partai Golkar, PDI Perjuangan, PPP, PAN, PKB, dan lainnya), juga diuraikan tentang logika untung rugi dalam bisnis politik dan adanya peran para broker dalam dunia politik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar