PARTAI POLITIK, ANTARA PILAR
DEMOKRASI DAN PILAR KOPRUPSI?
Ringkasan Buku: Yusrianto Elga, 2013, Apapun Partainya, Korupsi Hobinya
KORUPSI
menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (2011) adalah penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara
(perusahaan, organisasi, yayasan, dan lainnya) untuk keuntungan pribadi dan
orang lain. Sedangkan koruptor berarti orang yang melakukan korupsi. Fenomena
korupsi di negeri ini begitu subur. Data yang dirilis KPK selama periode
2004-2011 tercatat sejumlah 1.408 kasus korupsi. Jika pada masa Orde Baru,
korupsi hanya terjadi di lingkungan eksekutif dan orang-orang tertentu. Maka
kini korupsi sudah merebak ke lembaga-lembaga seperti parlemen, kepolisian,
bahkan juga partai politik.
Sebenarnya
partai politik (parpol) merupakan pilar demokrasi. Gerak laju
sosial-ekonomi-politik bergantung dari dinamika parpol. Itu sebabnya, parpol
memiliki tugas dan tanggung jawab yang tidak sederhana. Masa depan sebuah
bangsa berada di tangan parpol. Artinya, jika parpol benar-benar mengawal
bangsa ini menuju perubahan, maka berarti parpol telah menanamkan benih-benih
demokrasi di negeri ini. Sehingga, kaidah “dari rakyat, untuk rakyat” pantas
disandang oleh parpol itu sendiri, kata Yusrianto Elga (2013, hlm 22).
Namun,
mengapa menurut penulis buku Apa pun Partainya, Korupsi Hobinya ini, parpol merupakan sarang bagi koruptor?
Ada beberapa faktor yang menyebabkan parpol menjadi sarang koruptor. Pertama,
kurangnya perhatian parpol terhadap pendidikan antikorupsi bagi para kader.
Terutama bagi kader yang akan menjadi anggota dewan. Kedua, parpol hanya sibuk
mengatur siapa kader yang akan dikirim ke kursi parlemen tanpa mengevaluasi
kinerja kader dan sejauh mana komitmen yang ditunjukkan oleh mereka (hlm
19-20).
Membaca
buku ini membuka mata kita, hampir setiap partai, ada kadernya yang
korupsi. Bahkan meskipun partai itu berlabel partai Islam. Seyogyanya
kader-kader dari partai Islam menjadi contoh atau teladan yang inspiratif
dalam memaknai jabatan ataupun kekuasaan (hlm 48).
Buku
yang ditulis alumnus Pidana dan Politik Islam ini menarik karena selain
dilengkapi dengan nama-nama kader partai yang melakukan korupsi beserta kasus
yang menjeratnya (baik dari Partai Demokrat, Partai Golkar, PDI Perjuangan,
PPP, PAN, PKB, dan lainnya), juga diuraikan tentang logika untung rugi dalam bisnis
politik dan adanya peran para broker dalam dunia politik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar