AHMAD DAHLAN DAN MUHAMMADIYAH
Oleh: Kamirah
KH
Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, memiliki pandangan yang cerdas dan cukup
jernih melihat kondisi umatnya, sehingga dalam berdakwah lebih menekankan amal
usaha. Dia tahu kalau Islam itu bisa dilihat baik dari kacamata filosofis
maupun kacamata praktis; dan dia memilih cara yang kedua. Dia tidak mau menulis
satu kitab pun, takut menambah perpecahan umat; dia tidak muluk-muluk mau
mengganti sistem pemerintah Belanda, dia mau bekerjasama dengan Belanda.
Dalam
perkembangannya Muhammadiyah menempatkan diri dalam kubu modernisme, karena
ideologi modern itu dirasa cocok dengan komunitas warganya yang berasal dari
daerah perkotaan. Kemudian terbukti, pemikiran Islam modern ala Muhammadiyah
relatif berhasil mengangkat kelas menengah Islam untuk mengisi pos-pos dalam
struktur negara modern. Bahkan, amal usaha Muhammadiyah berhasil melakukan
ekspansi ke daerah pedesaan. Akan tetapi kesuksesan ini diikuti dengan
munculnya krisis dalam tubuh Muhammadiyah, dimana mereka yang dari daerah
pedesaan tetap memegang teguh tradisi. Mereka seolah menjadi anak tiri dalam
keluarga besar Muhammadiyah karena secara organisasi masih belum mengakomodasi
tradisi.
Siapa pun yang
melakukan pembaharuan hendaknya selalu menyadari sifat keterbatasan yang
melekat pada manusia. Sikap seperti itu menjadikan mereka berusaha terus
menyempurnakan usaha-usaha pembaharuan itu, disamping adanya kesediaan untuk
melakukan dialog konstruktif dengan berbagai kelompok lain dari kultur yang
berbeda. K.H. Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah sudah menyadari sifat
keterbatasan pemikiran manusia, dan kareanya dia tidak mau menuliskan hasil
pemikirannya itu, namun dia lebih menekankan pada segi praksis dari agama demi
mengangkat harkat dan martabat manusia. Dia tidak mau terlibat perdebatan sengit
persoalan teologi/ideologi, dan dia betul dalam memandang teologi sebagai alat
yang harus tunduk pada misi agama yang pada prinsipnya menekankan segi
amalan/praksis demi mengangkat harkat dan martabat manusia.
Muhammadiyah
didirikan di daerah perkotaan dan pemikirannya itu tentunya cocok bagi mereka
yang memiliki realitas sosi-historis yang sama. Dan Muhammadiyah kurang
mendapat sambutan di daerah pedesaan karena dalam Muhammadiyah belum dilakukan
modifikasi pemikiran yang memungkinkan mencakup realitas sosio-historis daerah
pedesaan. Memang Muhammadiyah mendapat pengikut juga di daerah pedesaan berkat
amalan Muhammadiyah, dan bukankah Islam mengharapkan umatnya melakukan amalan
yang bias kepentingan, sebagaimana misi Islam adalah rahmatan lil’alamin (memberi manfaat bagi semua orang, terlepas
dari pertimbangan agama yang mereka anut).
Keberhasilan suatu
pembaharuan sangat ditentukan oleh tingkat kecanggihan suatu pemikiran. Fakta
mayoritas Muslim dari daerah pedesaan tidak masuk Muhammadiyah menunjukkan
bahwa pemikiran Muhammadiyah masih belum mengakomodasi realitas sosio-historis
daerah pedesaan. Bila fakta ini disadari dan memang hal itu dianggapnya sebagai
suatu ciri khas maka mereka akan dapat mengembangkan dialog yang konstruktif
dengan Nahdhatul Ulama (NU), suatu organisasi yang menjadi afiliasi mayoritas
Muslim daerah pedesaan. Bila semua organisasi atau kelompok Islam mampu
memahami hal ini maka mereka akan dapat menciptakan budaya Islam yang
Indonesianis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar