Antara Lebaran vs Ramadhan
Oleh: Kamirah
Lebaran sebentar lagi………
Sebenarnya sih masih 3 bulan
lagi. Tapi gaungnya sudah terasa dimana-mana. Tiket mudik kereta sudah ludes.
Tiket pesawat kian menjulang. Bisnis keperluan lebaran mulai baju, mukena, dan
pernak-pernik lebaran lainnya mulai naik omsetnya karena para ibu tak mau repot
dengan kenaikan harga menjelang lebaran. Obrolan ibu-ibu di kereta sudah mulai
berganti tema, mudik dan belanja lebaran (ini karena penulis seorang krl
mania).
Aku sendiri, sejak awal tahun
sudah mulai mengintip harga tiket mudik lebaran, siapa tahu lagi beruntung
dapat harga promo dan pada akhirnya tepat 3 bulan sebelum hari mudik yang
kurencanakan, aku terpaksa membeli tiket pesawat karena tak kebagian tiket
kereta.
Tapi pagi ini, saat aku
membeli sebuah majalah kesayanganku, aku merasa tertampar dengan judul
headlinenya “Siap-siap lahir batin agar prima menyambut Ramadhan”. Ya, sebelum
lebaran, pastinya Ramandhan datang lebih dulu. Aku sudah ribut soal lebaran dan
sama sekali belum bersiap menyambut Ramadhan yang seharusnya jauh lebih
penting, sebagaimana Rasul dan sahabatnya yang mulai bersiap menyambut Ramadhan
setidaknya 4 bulan sebelumnya.
Ramadhan membutuhkan fisik
dan mental yang prima. Bagi yang sudah terbiasa melakukan puasa sunnah, Insya
Allah menjalankan puasa sebulan penuh tidak akan terasa berat. Setidaknya,
membiasakan untuk makan seperlunya dan tidak makan hingga kekenyangan. Karena
sesungguhnya, lambung kita idealnya diisi oleh sepertiga makanan, sepertiga
air, dan sepertiga untuk bernapas.
Ramadhan sesungguhnya juga
bukan bulan untuk shopping atau bermewah-mewahan. Mentang-mentang puasa, segala
macam menu buka puasa disiapkan secara berlebihan. Padahal esensi puasa
sebenarnya adalah menyucikan diri dari dosa dan ‘menikmati’ rasa lapar yang
biasa dirasakan kaum papa. Belum lagi segala persiapan menyambut lebaran yang
terkesan dipaksakan. Lebih penting menyiapkan keluarga terutama anak-anak
dengan memberikan kesan bahwa Ramadhan memang bulan yang istimewa. Jika perlu,
hiasi rumah dengan lampu warna-warni atau kreasi lainnya, sekaligus mengisi
liburan awal puasa mereka. Saling berlomba antar anggota keluarga untuk
bersedekah atau menghafal al quran, rasanya lebih bermanfaat daripada sekedar
berburu baju baru.
Mari sambut Ramadhan denga
fisik dan mental yang sehat agar Ramadhan tak berlalu begitu saja tanpa ibadah
maksimal, karena tak ada yang tahu apakah kita masih akan bersua dengan
Ramadhan lagi tahun depan.
Selamat bersiap menyambut
Ramadhan. Semoga Ramadhan tahun ini jauh lebih baik daripada Ramadhan
sebelumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar