Minggu, 16 Juni 2013

Menyambut Ramadhan




Antara Lebaran vs Ramadhan

Oleh: Kamirah

Lebaran sebentar lagi………
Sebenarnya sih masih 3 bulan lagi. Tapi gaungnya sudah terasa dimana-mana. Tiket mudik kereta sudah ludes. Tiket pesawat kian menjulang. Bisnis keperluan lebaran mulai baju, mukena, dan pernak-pernik lebaran lainnya mulai naik omsetnya karena para ibu tak mau repot dengan kenaikan harga menjelang lebaran. Obrolan ibu-ibu di kereta sudah mulai berganti tema, mudik dan belanja lebaran (ini karena penulis seorang krl mania).

Aku sendiri, sejak awal tahun sudah mulai mengintip harga tiket mudik lebaran, siapa tahu lagi beruntung dapat harga promo dan pada akhirnya tepat 3 bulan sebelum hari mudik yang kurencanakan, aku terpaksa membeli tiket pesawat karena tak kebagian tiket kereta.

Tapi pagi ini, saat aku membeli sebuah majalah kesayanganku, aku merasa tertampar dengan judul headlinenya “Siap-siap lahir batin agar prima menyambut Ramadhan”. Ya, sebelum lebaran, pastinya Ramandhan datang lebih dulu. Aku sudah ribut soal lebaran dan sama sekali belum bersiap menyambut Ramadhan yang seharusnya jauh lebih penting, sebagaimana Rasul dan sahabatnya yang mulai bersiap menyambut Ramadhan setidaknya 4 bulan sebelumnya.

Ramadhan membutuhkan fisik dan mental yang prima. Bagi yang sudah terbiasa melakukan puasa sunnah, Insya Allah menjalankan puasa sebulan penuh tidak akan terasa berat. Setidaknya, membiasakan untuk makan seperlunya dan tidak makan hingga kekenyangan. Karena sesungguhnya, lambung kita idealnya diisi oleh sepertiga makanan, sepertiga air, dan sepertiga untuk bernapas.

Ramadhan sesungguhnya juga bukan bulan untuk shopping atau bermewah-mewahan. Mentang-mentang puasa, segala macam menu buka puasa disiapkan secara berlebihan. Padahal esensi puasa sebenarnya adalah menyucikan diri dari dosa dan ‘menikmati’ rasa lapar yang biasa dirasakan kaum papa. Belum lagi segala persiapan menyambut lebaran yang terkesan dipaksakan. Lebih penting menyiapkan keluarga terutama anak-anak dengan memberikan kesan bahwa Ramadhan memang bulan yang istimewa. Jika perlu, hiasi rumah dengan lampu warna-warni atau kreasi lainnya, sekaligus mengisi liburan awal puasa mereka. Saling berlomba antar anggota keluarga untuk bersedekah atau menghafal al quran, rasanya lebih bermanfaat daripada sekedar berburu baju baru.

Mari sambut Ramadhan denga fisik dan mental yang sehat agar Ramadhan tak berlalu begitu saja tanpa ibadah maksimal, karena tak ada yang tahu apakah kita masih akan bersua dengan Ramadhan lagi tahun depan.
Selamat bersiap menyambut Ramadhan. Semoga Ramadhan tahun ini jauh lebih baik daripada Ramadhan sebelumnya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar