Senin, 29 April 2013

Makna Kerja

MEMBEDAH MAKNA: CINTA KERJA DAN HARMONI

BAGIAN KEDUA

Oleh: Kamirah


Di Bagian Pertama telah disebutkan tentang makna sebuah kata CINTA yang dijadikan tagline PKS pada saat ini. Cinta adalah sebuah ide yang brilian. Politik yang cenderung sudah diasumsikan kejam dan kasar, berusaha dipadankan dengan cinta, yang maknanya bagi setiap orang dapat diterjemahkan dalam bahasa apapun, baik lisan, tulisan, gambar, gestur, dan lain sebagainya. Politik bernuansa keras, sementara cinta bernuansa lembut. Politik seringkali dimaknai merebut sesuatu, sementara cinta seringkali dimaknai membagi sesuatu. Pada akhirnya politik kadung dicap negatif, sementara cinta diasosiasikan dengan citra positif.
Anis menyebut, cara politik keras telah merubah wajah demokrasi Indonesia menjadi ajang dangerous game. Jargon kerja diusung agar kader PKS se-Indonesia mulai hari ini terus melakukan kerja keras, membawa partai ke tiga besar Pemilu 2014.



KERJA
 
Kerja adalah  aktivitas tubuh, pikiran, atau mesin, atau menggunakan sebagian besar dari kekuatan alam. Kerja adalah upaya fisik atau intelektual yang dilakukan dengan penuh semangat, sungguh-sungguh, dan melelahkan. Kerja berarti melakukan apa yang memang 
harus kita lakukan (doing what we must).

Jadi kerja adalah keharusan kita dalam melakukan sesuatu aktivitas atau perbuatan. Bagi PKS melakukan kerja-kerja untuk bangsa Indonesia adalah suatu keharusan yang selalu didarmabaktikan dan diwujudkan sepenuh dan setulus hati. PKS mempunyai slogan 'Bekerja untuk Indonesia'.

Sebaiknya, kerja bukanlah aktivitas untuk menghibur diri atau untuk bersenang-senang (leisure). Aktivitas yang menunjukkan kegiatan bersenang-senang lebih tepatnya disebut  melakukan sesuatu yang kita sukai (doing what we like).
 '
Doing what we must' sangat berbeda dengan 'doing what we like'. Makanya, belakangan ini sering beredar spekulasi apakah kunjungan anggota DPR RI ke luar negeri untuk studi banding benar-benar melakukan kerja keras, sungguh-sungguh dan melelahkan untuk kepentingan bangsa dan negara ataukah sekedar melihat-lihat situasi di negera lain yang memang tampak serba tertib, teratur dan nyaman.

Kerja menurut T. S. Elliot  adalah kegiatan memeriksa dengan seksama (to examine closely) atau disebut sifting, mengkombinasikan (combining), membentuk/membangun (constructing), mengoreksi (correcting), dan menguji (testing). Jadi kerja adalah rangkaian dari mulai memerikas hingga melakukan pengujian. Oleh karena itu, kerja memunculkan beragam  implikasinya mulai dari  melakukan sesuatu dengan upaya yang sangat menyakitkan, upaya yang sangat melelahkan bukan saja secara fisik,  melainkan juga melelahkan baik fisik atau pun pikiran sekaligus.

Kerja adalah melakukan sungguh-sungguh sesuatu  yang sudah menjadi kebiasaan (habituation)  dan dilakukan orang-orang terlatih dengan baik  (well-trained). Kerja adalah pelayanan yang diberikan karena panggilan hati dan kecintaannya pada profesi. Oleh karena itu, kerja lebih mendalam dapat bermakna lebih spesifik sebagai kepekaan dalam berdagang atau berbisnis, kepekaan profesi, atau seni memaknai kehidupan.

Kerja adalah melakukan sesuatu dengan upaya yang sungguh-sungguh. Bagi olahragawan kerja adalah berlatih dengan sungguh-sungguh sampai benar-benar terampil dan tangkas melakukan gerakan, mengangkat atau mengayunkan sesuatu. Kerja yang serius bagi olahragawan adalah kemampuannya memenangkan kompetisi karena talenta dan keahliannya.  Bagi pekerja seni kerja adalah puisi, novel, patung, lukisan,  atau sebuah  komposisi musik. Dengan demikian, kerja menuntut sebuah hasil yang kongkrit, jadi kerja adalah sebuah produk yang dihasilkan.

Kerja adalah komposisi musik (opus). Maka, jika ada Beethoven opus dan karenanya ada pula komposisi oskestra kerja jama'ah. Kerja menuntut singkronisasi dan ikatan dalam berjama'ah dan karena itu pula kerja dalah membangkitkan dan membentuk semangat berjamaah (takwiinu ruuhil jamaa'ah).

Kerja atau amal jama'i adalah perintah dari Allah SWT (allahu yu'allamunaal jamaa'ah) sebagaimana Allah memiliki malaikat-malaikat dengan tugasnya masing-masing dan mereka tidak pernah melanggar apa yang diperintahkan kepadanya (QS 66: 6).

Bahkan kerja-kerja Rasulullah SAW pun didukung oleh para sahabat (arrasuulu muayyadun bishshahabah) dan Allah menjamin dukungan para sahabat (orang-orang beriman) ini (QS 8: 62), kalau diseru mereka 'sami'naa wa atha'naa', mereka mendengar dan mematuhinya (QS 24: 51).

Kerja jamaah ini adalah  tabiat alam (thabii'atul 'aalami) di mana kita saling ketergantungan dengan pihak lainnya. Kerja jamaah adalah keniscayaan karena, hakikat manusia yang lemah (al-insaanu dha'iifun binafsihi) sehingga membutuhkan kerja sama (team work) untuk sebuah keberhasilan. Perlu diingat bahwa setan bersama mereka yang sendirian (asysyaithaanu ma'al waahidi). Oleh karena itu, melakukan kerja sendirian (infirodi) lebih dekat kepada setan.

Kerja jamaah adalah keniscayaan sebagai tuntutan  untuk mencegah kekafiran sebagai sebuah millah yang satu (al-kufru millatun waahidah). Kerja menuntut kerja sama antara umat Islama, sebab jika tidak bersatu meskipun orang-orang kafir itu berpecah belah (QS 59: 14), tetapi ketika mereka menghadapi umat Islam mereka bersatu dan saling bekerja sama (QS 8: 7).

Oleh karena itu, kerja wajib dilakukan secara berjama'ah (QS 3: 103) dan saling menolong dalam kebenaran (wujuubul jamaa'ati watta'aawuni 'alal haqqa). Allah memerintahkan untuk saling menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan (QS 5: 2) dan Allah menyukai bila umat Islam berjuang dalam barisan yang rapi seperti bangunan yang kokoh (QS 61: 4).

Proses kerja kita dalam membentuk semangat berjama'ah (takwiinu ruuhil jamaa'ah) (QS 3: 193) mengharuskan kita berpegang teguh kepada tali Allah (QS 3: 103), tidak berpecah belah/bersatu padu (QS 30: 31-32), membutuhkan kesatuan hati (QS 8: 63), dan persaudaraan Islam (QS 49: 10).

Sehingga kerja kita akan mendatangkan kemenangan atau keberuntungan (QS 3: 104).









Abi Fahmi Azizi
@abifahmiazizi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar