MEMBEDAH MAKNA: CINTA KERJA DAN HARMONI
BAGIAN KEDUA
Oleh: Kamirah
Di Bagian Pertama telah disebutkan tentang makna sebuah kata CINTA yang dijadikan tagline PKS pada saat ini. Cinta adalah sebuah ide
yang brilian. Politik yang cenderung sudah diasumsikan kejam dan kasar,
berusaha dipadankan dengan cinta, yang maknanya bagi setiap orang dapat
diterjemahkan dalam bahasa apapun, baik lisan, tulisan, gambar, gestur, dan
lain sebagainya. Politik bernuansa keras, sementara cinta bernuansa lembut.
Politik seringkali dimaknai merebut sesuatu, sementara cinta seringkali dimaknai
membagi sesuatu. Pada akhirnya politik kadung dicap negatif, sementara cinta
diasosiasikan dengan citra positif.
Anis menyebut, cara politik keras telah merubah
wajah demokrasi Indonesia menjadi ajang dangerous game. Jargon kerja diusung
agar kader PKS se-Indonesia mulai hari ini terus melakukan kerja keras, membawa
partai ke tiga besar Pemilu 2014.
KERJA
Kerja
adalah aktivitas tubuh, pikiran, atau mesin, atau menggunakan sebagian
besar dari kekuatan alam. Kerja adalah upaya fisik atau intelektual yang
dilakukan dengan penuh semangat, sungguh-sungguh, dan melelahkan. Kerja berarti
melakukan apa yang memang
harus kita
lakukan (doing what we must).
Jadi kerja
adalah keharusan kita dalam melakukan sesuatu aktivitas atau perbuatan. Bagi
PKS melakukan kerja-kerja untuk bangsa Indonesia adalah suatu keharusan yang
selalu didarmabaktikan dan diwujudkan sepenuh dan setulus hati. PKS mempunyai
slogan 'Bekerja untuk Indonesia'.
Sebaiknya, kerja
bukanlah aktivitas untuk menghibur diri atau untuk bersenang-senang (leisure).
Aktivitas yang menunjukkan kegiatan bersenang-senang lebih tepatnya
disebut melakukan sesuatu yang kita sukai (doing what we like).
'
Doing what we
must' sangat berbeda dengan 'doing what we like'. Makanya, belakangan
ini sering beredar spekulasi apakah kunjungan anggota DPR RI ke luar negeri
untuk studi banding benar-benar melakukan kerja keras, sungguh-sungguh dan
melelahkan untuk kepentingan bangsa dan negara ataukah sekedar melihat-lihat
situasi di negera lain yang memang tampak serba tertib, teratur dan nyaman.
Kerja menurut T.
S. Elliot adalah kegiatan memeriksa dengan seksama (to examine closely)
atau disebut sifting, mengkombinasikan (combining), membentuk/membangun
(constructing), mengoreksi (correcting), dan menguji (testing). Jadi kerja
adalah rangkaian dari mulai memerikas hingga melakukan pengujian. Oleh karena
itu, kerja memunculkan beragam implikasinya mulai dari melakukan
sesuatu dengan upaya yang sangat menyakitkan, upaya yang sangat melelahkan
bukan saja secara fisik, melainkan juga melelahkan baik fisik atau pun
pikiran sekaligus.
Kerja adalah
melakukan sungguh-sungguh sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan
(habituation) dan dilakukan orang-orang terlatih dengan baik
(well-trained). Kerja adalah pelayanan yang diberikan karena panggilan hati dan
kecintaannya pada profesi. Oleh karena itu, kerja lebih mendalam dapat bermakna
lebih spesifik sebagai kepekaan dalam berdagang atau berbisnis, kepekaan
profesi, atau seni memaknai kehidupan.
Kerja adalah
melakukan sesuatu dengan upaya yang sungguh-sungguh. Bagi olahragawan kerja
adalah berlatih dengan sungguh-sungguh sampai benar-benar terampil dan tangkas
melakukan gerakan, mengangkat atau mengayunkan sesuatu. Kerja yang serius bagi
olahragawan adalah kemampuannya memenangkan kompetisi karena talenta dan
keahliannya. Bagi pekerja seni kerja adalah puisi, novel, patung,
lukisan, atau sebuah komposisi musik. Dengan demikian, kerja
menuntut sebuah hasil yang kongkrit, jadi kerja adalah sebuah produk yang
dihasilkan.
Kerja adalah
komposisi musik (opus). Maka, jika ada Beethoven opus dan karenanya ada pula
komposisi oskestra kerja jama'ah. Kerja menuntut singkronisasi dan ikatan dalam
berjama'ah dan karena itu pula kerja dalah membangkitkan dan membentuk semangat
berjamaah (takwiinu ruuhil jamaa'ah).
Kerja atau amal
jama'i adalah perintah dari Allah SWT (allahu yu'allamunaal jamaa'ah)
sebagaimana Allah memiliki malaikat-malaikat dengan tugasnya masing-masing dan
mereka tidak pernah melanggar apa yang diperintahkan kepadanya (QS 66: 6).
Bahkan
kerja-kerja Rasulullah SAW pun didukung oleh para sahabat (arrasuulu muayyadun
bishshahabah) dan Allah menjamin dukungan para sahabat (orang-orang beriman)
ini (QS 8: 62), kalau diseru mereka 'sami'naa wa atha'naa', mereka mendengar
dan mematuhinya (QS 24: 51).
Kerja jamaah ini
adalah tabiat alam (thabii'atul 'aalami) di mana kita saling
ketergantungan dengan pihak lainnya. Kerja jamaah adalah keniscayaan karena,
hakikat manusia yang lemah (al-insaanu dha'iifun binafsihi) sehingga
membutuhkan kerja sama (team work) untuk sebuah keberhasilan. Perlu diingat
bahwa setan bersama mereka yang sendirian (asysyaithaanu ma'al waahidi). Oleh
karena itu, melakukan kerja sendirian (infirodi) lebih dekat kepada setan.
Kerja jamaah
adalah keniscayaan sebagai tuntutan untuk mencegah kekafiran sebagai
sebuah millah yang satu (al-kufru millatun waahidah). Kerja menuntut kerja sama
antara umat Islama, sebab jika tidak bersatu meskipun orang-orang kafir itu
berpecah belah (QS 59: 14), tetapi ketika mereka menghadapi umat Islam mereka
bersatu dan saling bekerja sama (QS 8: 7).
Oleh karena itu,
kerja wajib dilakukan secara berjama'ah (QS 3: 103) dan saling menolong dalam
kebenaran (wujuubul jamaa'ati watta'aawuni 'alal haqqa). Allah memerintahkan
untuk saling menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan (QS 5: 2) dan Allah menyukai
bila umat Islam berjuang dalam barisan yang rapi seperti bangunan yang kokoh
(QS 61: 4).
Proses kerja
kita dalam membentuk semangat berjama'ah (takwiinu ruuhil jamaa'ah) (QS 3: 193)
mengharuskan kita berpegang teguh kepada tali Allah (QS 3: 103), tidak berpecah
belah/bersatu padu (QS 30: 31-32), membutuhkan kesatuan hati (QS 8: 63), dan
persaudaraan Islam (QS 49: 10).
Sehingga kerja kita akan mendatangkan kemenangan atau keberuntungan (QS 3: 104).
Abi Fahmi Azizi
@abifahmiazizi
@abifahmiazizi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar